.
.
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Obat Batuk dari Bahan Herbal

Batuk bisa disebabkan oleh berbagai sebab seperti infeksi saluran napas, influenza, alergi, asma, tersedak atau karena menghirup asap rokok. Ada berbagai macam obat batuk di pasaran, tapi sebenarnya obat batuk juga banyak tersedia di dapur Anda.


“Hampir setiap orang pernah terserang batuk, karena batuk sebenarnya adalah refleks fisiologis tubuh untuk mengeluarkan benda-benda asing dari tenggorokan. Oleh karena itu, tidak semua batuk harus disembuhkan, karena itu refleks,” ujar Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, Apt, Wakil Ketua Pusat Studi Obat Bahan Alam Departemen Farmasi, FMIPA Universitas Indonesia dalam acara Media Workshop ‘Inovasi Teknologi Ekstraksi Bahan Alami Menghasilkan Obat Batuk Herbal yang Efektif’ di Kembang Goela Resto, Plaza Sentral, Jakarta, Kamis (16/6/2011).
Prof Sumali juga mengatakan bahwa bukanlah suatu penyakit melainkan hanya gejala. Beberapa jenis obat batuk yang biasa digunakan antara lain adalah:
Antitusif (pereda batuk)
Anti alergi (antihistamin)
Decongestan (pengencer dahak)
Antibiotik
Analgesik
Anti radang
Hindari rokok dan asap rokok
Hindari alergen (debu dan asap rokok)
“Tapi sebenarnya di rumah kita sendiri banyak obat herbal yang digunakan sebagai obat batuk, biasanya banyak di dapur,” lanjut Prof Sumali yang juga merupakan Guru Besar di Fakultas Farmasi FMIPA UI.
Berdasarkan banyak penelitian yang telah dilakukan, Prof Sumali memberikan beberapa contoh herbal yang bisa digunakan sebagai obat batuk, yaitu:
1. Rimpang jahe (Zingiber officinale Roscoe) dan jahe merah (Z. officinale var. rubra)
“Jahe berkhasiat sebagai karminativa (menghilangkan kembung, antiinflamasi, analgesik (nyeri karena batuk), antipiretik (penurun panas). Jahe berkhasiat sebagai obat batuk karena komponen minyak atsiri yang mengandung terpenoid zingiberol, gingerol dan shogaol. Caranya direbus atau diseduh dengan air panas kemudian diminum,” jelas Prof Sumali.
2. Rimpang kencur (Kaempferia galanga L.)
“Kalau saya kencur dicuci, dikupas kemudian dikunyah, itu sudah bisa jadi obat batuk,” jelas Prof Sumali.
Menurut Prof Sumali, kencur berkhasiat sebagai antiinflamasi dan mengendalikan rasa sakit, antihipertensi, obat influenza. Herbal ini berkhasiat karena 2,4-3,9 % minyak atsiri yang mengandung 25-30 % etilsinamat dan metil-p-metoksi-sinamat, asam trans-sinamat.
3. Ekstrak jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle)
“Jeruk nipis bisa digunakan untuk obat influenza, perut mules, mual, batuk. Jeruk nipis mengandung komponen kimia yaitu minyak atsiri 7% yang mengandung
terpena, terpenoid hesperidin tangeritin, naringin, eriocitrin, eriocitrocide.
4. Ekstrak dan minyak biji pala (Myristica fragrans Houtt)
“Biji pala mengandung komponen kimia miristisin, asam miristat, safrol dan
eugenol. Khasiatnya sebagai sedativa (penenang), makanya orang yang biasanya makan makanan yang mengandung biji pala jadi ngantuk,” lanjut Prof Sumali.
5. Mint atau minyak permen (Mentha piperita L)
“Daun minta punya khasiat sebagai stimulansia (merangsang nafsu makan), karminativa (melegakan pencernaan), antispasmodik (meredakan ketegangan otot saluran pernapasan dan pencernaan), antiemetik (anti muntah).
Komponen utama minyak permen adalah mentol 50-60%, 40-45% adalah mentol bebas, lainnya dalam bentuk ester.
6. Akar manis atau Liquorice atau Licorice (Glycyrrhiza glabra L.)
“Akar manis sudah diketahui memiliki spektrum khasiat farmakologi yang luas sejak 2100 SM. Liquorice banyak digunakan dalam formula obat batuk sebagai ekspektoransia dan demulcent (mucoprotective), antiinflamasi,” jelas Prof Sumali.
Komponen kimia yang terkandung didalamnya adalah Glycyrrhizin, garam kalium dan kalsium asam glisirisinat. Flavonoid liquiritin, isoliquertin, liquiritigenin, isoliquiritigenin, ramnoliquiritin.
7. Thymi Herba (Thymus vulgaris dan T. zygis)
Khasiatnya sebagai antiseptik, antitusiv, spasmolitik dan ekspektoransia. Dengan komponen kimia mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 1,2% dengan kadar fenol tidak kurang dari 0,5% dihitung sebagai timol.
sumber: detik.com

Anak Bertubuh Pendek Berisiko Mengalami Obesitas

img
Salah satu masalah gizi yang dialami oleh anak-anak di Indonesia adalah stunting atau bertubuh pendek. Anak pendek ini berisiko mengalami obesitas dan juga penyakit dimasa depan.

Kasus stunting atau anak bertubuh pendek terjadi di seluruh Indonesia. Stunting atau disebut juga kuntet memang termasuk dampak lain dari gizi buruk atau kurang, yang sifatnya tergolong kronis.

"Anak stunting enggak harus bodoh, tapi stunting potensial untuk menjadi obesitas dan berisiko terkena penyakit dimasa depan," ujar Dr dr Yustina Anie Indriastuti, MSc, SpGK, Sekjen PDGMI (Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia) disela-sela acara Penghargaan Pemenang Kompetisi Tingkat Nasional Dokter Kecil-Mahir Gizi 2011: "Sehat Dimulai Dari Sekolahmu' di gedung kementerian dan kebudayaan, Jakarta, Senin (30/1/2012).

Dr Anie mengungkapkan hal ini karena pada anak stunting ketika ia tumbuh dewasa dan asupan makannya semakin besar ia tidak bisa lagi tumbuh ke atas, melainkan tumbuh jadi ke samping yang membuatnya berisiko mengalami obesitas.

"Stunting bisa terjadi di setiap usia, cara mengetahuinya dari melihat Kartu Menuju Sehat (KMS) dengan melakukan perbandingan antara tinggi dan berat badan yang dimiliki anak," ujar Dr dr Carmen M Siagian, MS, SpGK, Ketua 1 PDGMI Pusat.

Dr Carmen menuturkan berdasarkan data Riskesdas 2010 diketahui sekitar 36 persen balita mengalami stunting. Meski begitu stunting ini masih bisa dikejar sebelum ia mengalami pertumbuhan cepat.

"Pertumbuhan itu kan makin lama makin lambat dan biasanya setelah remaja itu berhenti. Jadi stunting ini masih bisa dikejar dengan nutrisi yang baik dan lingkungan, kecuali kalau sudah melewati masa pertumbuhan cepat," ujar Dr Carmel.

Salah satu penyebab stunting adalah akibat masalah gizi yang bisa terjadi sejak hamil. Untuk itu pemerintah mencanangkan program 1.000 hari untuk negeri yang mana meningkatkan gizi dari janin sampai usia 2 tahun.

"Kita upayakan untuk mengejar status gizi mulai dari janin sampai anak berusia 2 tahun, yaitu 270 hari selama hamil dengan memberikan penyuluhan dan meningkatkan gizi ibu hamil, sampai anak tersebut berusia 2 tahun terutama untuk pertumbuhan otaknya," ujar Dr Anie.

Masalah gizi lain yang juga kini dihadapi oleh Indonesia adalah gizi buruk atau gizi kurang dan juga kelebihan berat badan dan obesitas. Masalah obesitas yang dulu banyak terjadi di kota-kota besar ternyata di beberapa daerah kecil sudah ditemukan masalah gizi berlebih.

USG Bisa Dipakai untuk Memandulkan Pria dalam 15 Menit


Bagi pria yang berniat tak lagi ingin memiliki keturunan, dapat menjalani prosedur vasektomi atau pemutusan saluran sperma lewat operasi bedah. Tapi peneliti berhasil menemukan cara baru untuk membuat pria menjadi mandul tanpa perlu menjalani operasi bedah yakni menggunakan suara ultrasonik (USG).

Alat penghasil gelombang ultrasonik dalam dunia medis digunakan untuk melihat kondisi janin atau disebut USG. Penelitian terbaru pada tikus menunjukkan bahwa mesin USG yang tersedia saat ini dapat digunakan untuk membunuh pertumbuhan sel sperma. Teknologi ini bisa membuat laki-laki menjadi tidak subur.

"Pengobatan ultrasound dan tanpa pembedahan ini dapat mengurangi cadangan sperma pada tikus jauh di bawah level yang biasanya terlihat pada pejantan yang subur," kata peneliti, James Tsuruta, dari University of North Carolina di Chapel Hill seperti dilansir LiveScience, Senin (30/1/2012).

Para peneliti menggunakan alat USG yang tersedia secara komersial dan banyak digunakan dalam terapi fisik. Ide ini pertama kali diusulkan pada tahun 1970 oleh Mostafa Fahim, seorang peneliti di University of Missouri-Columbia yang menerbitkan beberapa penelitian mengenai pengobatan dengan USG untuk membunuh sel kuman dan penyebab infertilitas.

Mesin yang digunakan Fahim sekarang tidak lagi tersedia, sehingga para peneliti harus memulainya kembali dengan peralatan USG yang telah tersedia secara komersial. Peneliti kemudian akan melihat apakah mesin USG yang saat ini ada memiliki efek yang sama dengan mesin perintisnya.

Sperma berkembang pada testis lewat beberapa tahapan. Para peneliti bertujuan menghancurkan tahap awal perkembangan sperma, sehingga pengobatan ini akan berlangsung selama beberapa bulan.

Peneliti menemukan bahwa dengan memutar USG frekuensi tinggi di sekitar testis, sebagian besar sel sperma yang telah ada akan mati. Hasil terbaik terlihat setelah dua sesi dengan masing-masing sesi selama 15-menit, dan diberikan jeda dua hari. Para peneliti menguji sperma tikus dua minggu setelah mendapat perawatan.

Peneliti menemukan bahwa kedua sesi tersebut dapat mengurangi jumlah sperma tikus sampai dengan indeks nol atau menunjukkan jumlah sperma aktif yang sangat rendah. Mereka juga melihat bahwa tikus-tikus ini memiliki sel-sel penghasil sperma yang lebih sedikit.

Penelitian ini dilakukan pada tikus yang jauh lebih subur daripada manusia. Pada tikus, konsentrasi sperma yang mencapai 3.000 sperma aktif per mililiter atau kurang masih bisa membuahi sel telur.

Sedangkan pada manusia, jumlah tersebut sudah dianggap tidak subur. Pada manusia, jumlah sperma dikatakan rendah jika berada di bawah 15 juta sperma per mililiter.

"Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan berapa lama efek kontrasepsi dan apakah aman digunakan sampai beberapa kali. Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk mencari tahu apa pengaturan khusus seperti apa yang dapat memberikan hasil terbaik pada manusia'" kata Tsuruta.

Prosedur untuk mencegah kesuburan secara permanen, seperti vasektomi, dapat menurunkan konsentrasi sperma sampai 3 juta sperma per mililiter. Peneliti juga menegaskan bahwa pemandulan ultrasonik ini dapat disesuaikan agar dapat diberikan kepada hewan peliharaan untuk mengontrol populasinya. (http://www.detik.com)

Vaksin Jadi Tidak Manjur Jika Anak Terpapar Bahan Kimia PFC

img 
Senyawa kimia perfluorinated compound (PFC) banyak digunakan dalam perlengkapan sehari-hari seperti kantong pembungkus makanan, karpet hingga peralatan masak antilengket. Paparan senyawa kimia ini bisa berakibat anak yang divaksin jadi tidak kebal.

Dalam sebuah penelitian yang dimuat Journal of American Medical Association, peneliti menemukan bahwa makin tinggi kadar PFC dalam darah, makin sedikit antibodi yang diproduksi tubuh setelah anak-anak diberi vaksin difteri dan tetanus.

Anak-anak yang lebih banyak terpapar PFC juga memiliki kadar antibodi yang rendah sehingga tidak dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit menular.

"Paparan PFC menyebabkan sistem kekebalan tubuh anak-anak lebih lemah ketika divaksinasi. Selain membuat antibodi tidak bekerja, tubuh juga akan menghasilkan sedikit antibodi," kata peneliti, Philippe Grandjean MD, profesor kesehatan lingkungan di Harvard School of Public Health di Boston  seperti dilansir Health.com, Senin (30/1/2012).

Jumlah antibodi yang dihasilkan oleh vaksin merupakan indikasi fungsi sistem kekebalan tubuh yang baik. Temuan ini menunjukkan bahwa PFC memiliki efek negatif pada sistem kekebalan tubuh, bahkan melampaui efek dari vaksin.

Meskipun belum dapat mengidentifikasi bagaimana PFC dapat memasuki tubuh, para ahli menduga makanan, air minum dan produk yang terkontaminasi bahan kimia bisa menjadi sumber utama paparan PFC. Penelitian pada hewan telah menemukan kaitan antara paparan PFC dengan perubahan fungsi kekebalan tubuh.

Untuk menentukan apakah bahan kimia dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia, Grandjean dan timnya mengambil sampel darah dari 587 orang wanita hamil pada tahun 1999 hingga 2001.

Peneliti kemudian menguji sampel atas keberadaan lima jenis PFC yang paling umum ditemui. Ketika anak-anak yang dilahirkan mencapai usia 5 tahun, peneliti mengulangi proses yang sama dengan menggunakan sampel darah dari anak-anak.

Semua anak-anak dan ibu dalam penelitian ini tinggal di Kepulauan Faroe yang terletak antara Islandia dan Skotlandia. Kepulauan Faroe memiliki banyak sumber makanan yang terkontaminasi PFC dan memakan daging ikan paus dari perairan yang tercemar. Rata-rata kadar PFC dalam darah anak-anak Faroe sebanding dengan kadar PFC pada anak-anak Amerika.

Para peneliti juga mengukur kadar antibodi difteri dan tetanus dalam darah anak-anak sebanyak dua kali. Pertama pada usia 5 tahun setelah anak-anak telah diberi tiga dosis vaksin tetanus dan, yang kedua adalah dua tahun berikutnya ketika anak-anak disuntik penguat vaksin.

Tingginya paparan PFC sebelum kelahiran berkaitan dengan menurunnya jumlah antibodi pada usia 5 tahun. Anak-anak yang darahnya menunjukkan banyak paparan PFC pada usia 5 tahun memiliki antibodi yang lebih sedikit ketika usianya 7 tahun. Paparan PFC pada usia 5 tahun yang meningkat dua kali lipat diperkirakan mengurangi setengah dari jumlah antibodi ketika menginjak usia 7 tahun.

"Jika anak yang divaksinasi termasuk dalam anak-anak yang terkena PFC sehingga tidak merespon terhadap vaksin, maka kemungkinan epidemi bisa jadi lebih tinggi daripada tingkat vaksinasinya," kata Grandjean.

Margie Peden-Adams, PhD, ahli penelitian toksikologi di University of Nevada, Las Vegas, mengatakan bahwa tidak mungkin sepenuhnya menghindari PFC karena bahan ini meresap dalam lingkungan. Produk bebas PFC memang ada, namun cenderung mahal dan sulit dicari.

Anak-anak maupun orang dewasa bisa terpapar PFC dalam makanannya melalui wadah makanan. Sayangnya, berapa jumlah pastinya kadar PFC yang bisa tercampur dalam makanan masih belum jelas.

Kafein Bisa Bikin Naik atau Turun Kadar Estrogen Wanita Muda


img
Asupan harian kafein dapat memiliki efek lain selain hanya sekedar meningkatkan energi. Sebuah studi baru menemukan minum kopi atau minuman berkafein lainnya dapat berpengaruh pada kadar estrogen wanita muda bisa turun atau naik.

Dampak minuman berkafein tersebut dapat bervariasi berdasarkan ras. Pada wanita kulit putih, misalnya kopi dapat menurunkan estrogen. Sedangkan pada wanita Asia kopi memiliki efek sebaliknya, meningkatkan kadar hormon tersebut.

"Studi ini tidak meneliti wanita yang lebih tua, tetapi wanita usia subur yang secara rutin mengonsumsi secangkir teh setiap hari. Mereka mengonsumsi teh setiap hari secara rutin dan tanpa khawatir sedikit pun," kata para peneliti.

Efek kafein pada kadar estrogen sangat minimal pada wanita sehat, dan tidak memiliki dampak pada ovulasi atau kesehatan secara keseluruhan, setidaknya dalam jangka pendek.

"Penelitian ini cukup penting secara fisiologis karena membantu memahami bagaimana kafein dimetabolisme oleh kelompok-kelompok genetik yang berbeda. Tetapi untuk wanita usia reproduksi, minum kopi tidak akan mengubah secara signifikan fungsi hormonal klinis," kata Dr Enrique Schisterman, seorang peneliti senior dari National Institutes of Health seperti dilansir dari TheNewYorkTimes, Senin (30/1/2012).

Studi tersebut telah menganalisis data pada lebih dari 250 wanita yang diperiksa 1-3 kali seminggu selama dua siklus menstruasi. Para peserta penelitian memberikan sampel darah bersama dengan rincian perilaku seperti olahraga, makan, dan merokok. Rata-rata, mereka mengkonsumsi sekitar 90 mg kafein sehari, setara dengan sekitar satu cangkir kopi.

Setelah mengontrol sejumlah variabel, seperti usia dan diet, para peneliti menemukan bahwa di antara wanita Asia yang mengonsumsi 200 mg atau lebih kafein sehari memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi kurang dari jumlah tersebut. Pola serupa terlihat di antara perempuan kulit hitam, meskipun tidak signifikan secara statistik.

Namun, pada wanita putih 200 mg atau lebih kafein ternyata memiliki efek menurunkan sedikit pada kadar estrogen. Sekitar 90 persen perempuan antara usia 18-34 tahun mengonsumsi minuman kafein setara 1-2 cangkir kopi setiap hari.

"Alasan mengapa kafein memiliki dampak yang berbeda pada ras yang berbeda tidak diketahui secara jelas. Namun, kemungkinan genetika memiliki pengaruh pada metabolisme kafein. Sumber kafein juga tampaknya dapat membuat perbedaan. Peneliti telah meneliti kafein dari minuman selain kopi, seperti teh hijau dan soda dan dikaitkan dengan estrogen yang lebih tinggi pada semua wanita, terlepas dari ras. Berbagai tingkat antioksidan dan senyawa lain dalam minuman, serta aditif seperti susu dan gula, mungkin juga memainkan peran," kata Dr. Schisterman.

Untuk sementara, wanita premenopause yang sehat tidak perlu khawatir tentang asupan kafein dalam jangka pendek. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk melihat apakah mungkin ada dampak kumulatif selama bertahun-tahun atau dekade.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition.

http://www/detik.com

Karena Tak Terdeteksi, Sapi Gila Mudah Menyerang Manusia


img
Penyakit sapi gila adalah penyakit mematikan yang menyerang saraf otak dan umumnya menjangkiti ternak. Penyakit ini dapat menular ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi. Penyakit ini lebih mudah menular lewat aliran pembuluh getah bening, tidak hanya lewat otak hewan ternak.

Tidak seperti penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri, penyakit sapi gila disebabkan oleh molekul protein menular yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Protein yang disebut 'Prion' ini lebih mudah menyebar melalui paparan jaringan limfoid yang terinfeksi daripada lewat jaringan otak. Jaringan limfoid meliputi limpa atau kelenjar getah bening dan pembuluh getah bening

Dalam penelitian yang dimuat jurnal Science ini, para peneliti meneliti tikus transgenik yang terinfeksi penyakit prion dari domba ataupun manusia.

Peneliti menemukan bahwa jaringan limfoid, seperti limpa, tonsil, usus buntu dan kelenjar getah bening, memiliki prion lebih banyak daripada jaringan otak. Peneliti menemukan rata-rata sebanyak 7 % dari prion berada dalam otak tikus dan 65 % berada di limpa.

"Protein prion dapat berkembang biak cukup efisien dalam jaringan limfoid. Ini benar-benar diabaikan sampai sekarang, kemungkinan besar karena penelitian difokuskan pada jaringan otak," kata peneliti, Vincent Beringue, ilmuwan di Institut Nasional Penelitian Pertanian Perancis seperti dilansir myhealthnewsdaily.com, Senin (30/1/2012).

Penyebab penyakit prion sampai saat ini masih belum diketahui, tapi para ahli percaya bahwa protein yang normal dapat berubah menjadi proteion prion yang berbahaya, entah bagaimana caranya.

Penyakit prion yang paling umum manusia adalah penyakit Creutzfeldt-Jakob dan terjadi di seluruh dunia. Penyakit ini jarang dijumpai dan hanya menyerang sekitar satu dari 1 juta orang per tahun.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Penyakit ini menyebabkan penurunan fungsi mental dan gerakan dengan cepat, hingga akhirnya menyebabkan kematian sekitar satu tahun setelah diagnosis.

Menurut CDC, penyakit prion adalah penyakit kronis yang banyak ditemukan pada rusa dan saat ini sedang menyebar pada hewan-hewan di seluruh Amerika Serikat.

"Meskipun ada bukti bahwa perbedaan spesies bisa menjadi penghalang untuk menginfeksi manusia dengan penyakit ini, kami tidak tahu jika ada orang yang saat ini mungkin terinfeksi prion rusa. Infeksi bisa tetap tidak terdeteksi selama jangka waktu yang lama," jelas Christina Sigurdson, peneliti penyakit prion di University of California di San Diego.

http://www.detik.com

Benarkah Kanker Lebih Bisa Sembuh Jika Tak Dikemoterapi?


img
Sebagian orang berpendapat efek samping kemoterapi lebih besar dibandingkan manfaat yang didapatkan. Bahkan peluang untuk kanker sembuh dengan sendirinya diyakini justru lebih tinggi jika dibiarkan tanpa kemoterapi. Benarkah demikian?

Berbagai tulisan tentang hal itu banyak beredar di situs-situs maupun forum diskusi di internet. Sebagian besar mengatakan bahwa tingkat kesembuhan kanker yang diobati dengan kemoterapi hanya sekitar 3 persen, sedangkan sisanya 97 persen berakhir dengan kegagalan.

Angka ini kemudian dibandingkan dengan data lain yang menunjukkan bahwa peluang kanker untuk sembuh sendiri tanpa diobati. Menurut sebuah data dari Norwegia, 22 persen kanker payudara mengalami spontaneus remission atau sembuh dengan sendirinya.

Perbandingan ini memunculkan dugaan bahwa keberhasilan kemoterapi tidak hanya rendah, tetapi sekaligus juga menurunkan peluang bagi tubuh untuk memerangi sel kanker itu sendiri. Faktanya, obat kemoterapi memang menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, Dr Drajat Ryanto Suardi, SpB(K)Onk membenarkan bahwa efek samping obat kemoterapi bisa menurunkan daya tahan tubuh. Namun jika dikatakan bahwa peluang keberhasilan kemoterapi hanya 3 persen, dengan tegas ia membantah.

"Bisa saya katakan, data itu tidak benar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi efektivitas dan tingkat kesembuhan kemoterapi dan sejauh ini tidak ada data ilmiah yang mengatakan demikian," tegas Dr Drajat saat dihubungi detikHealth, Selasa (24/1/2012).

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan kemoterapi menurut Dr Drajat adalah jenis sel kanker dan sensitivitasnya terhadap obat. Limfoma malignant (kanker getah bening) dan kanker payudara misalnya, jika diambil angka secara kasar kasar rata-rata tingkat keberhasilan kemoterapinya bisa mencapai 50 persen.

Faktor berikutnya adalah grade atau tingkat keganasan kanker (sifat kanker) yang terdiri dari 3 grade, makin rendah grade kankernya maka tingkat keberhasilan kemoterapi makin tinggi. Kedua faktor tersebut, grade dan jenis kanker ditentukan berdasarkan hasil biopsi atau pemeriksaan sampel jaringan.

Selain itu, stage atau stadium kanker yang terdiri dari 4 stadium juga mempengaruhi keberhasilan kemoterapi. Sebagai contoh untuk kanker payudara, stadium 1 punya tingkat keberhasilan antara 80-85 persen sehingga pemeriksaan dini akan sangat menentukan peluang kesembuhan.

Tak kalah pentingnya, kebulatan tekad pasien dalam menjalani kemoterapi juga sangat menentukan tingkat keberhasilan. Menurut Dr Drajat, jika pasien punya tekad kuat untuk sembuh maka tanpa disadari tubuhnya akan membantu melakukan fight atau perlawanan terhadap sel kanker.

Terkait pendapat bahwa peluang kesembuhan kanker bisa lebih tinggi jika dibiarkan tidak diobati, Dr Drajat kurang sependapat. Bahkan ketika pasien memutuskan untuk menjalani pengobatan alternatif, pengobatan secara medis baik berupa kemoterapi, operasi maupun radioterapi tetap tidak boleh ditinggalkan.

"Pada dasarnya tidak ada larangan untuk melakukan pengobatan alternatif. Kapan saja mau dilakukan boleh-boleh saja, yang penting medisnya jangan ditinggalkan karena kalau hanya mengandalkan alternatif itu kan belum ada bukti ilmiahnya," pesan Dr Drajat. (http://www.detik.com)

Tensi Tangan Kanan dan Kiri Beda Tandanya Jantung Bermasalah

 img
Idealnya, tensi atau tekanan darah akan sama saja saat diukur di lengan kanan maupun lengan kiri. Namun jika ternyata hasil pengukurannya berbeda, maka perlu diwaspadai sebab hal itu bisa menandakan bahwa jantung sedang ada masalah.

Tekanan darah yang seringk teramati berbeda antara lengan kanan dan lengan kiri adalah tekanan sistolik, yakni angka yang biasanya ditulis di atas (misal 120/80 mmHg, maka siastoliknya 120 mHg). Namun perbedaan ini jarang disadari, sebab umumnya teknan darah hanya diukur di salah satu lengan.

Padahal jika angkanya berselisih 15 mmHg saja antara lengan kanan dan kiri, risiko terkena serangan jantung dikatakan mencapai 70 persen. Selain itu, risiko berkurangnya aliran darah ke kaki meningkat 1,6 kali lipat dan aliran darah ke otak berkurang 2,5 kali.

Menurut peneliti dari Univeristy of Miami, perbedaan hasil pengukuran tekanan darah antara lengan kanan dan lengan kiri menunjukkan adanya penyumbatan nadi di bawah tulang selangka. Nadi di tempat ini berfungsi mengalirkan darah ke berbagai organ terutama lengan dan kaki.

Penyumbatan pada pembuluh nadi di lokasi tersebut sangat erat hubungannya dengan risiko serangan jantung maupun masalah jantung dan pembuluh darah lainnya termasuk stroke. Penyebabnya bermacam-macam, misalnya kebiasaan merokok atau punya riwayat sakit gula.

"Umumnya orang hanya mengukur tekanan darah di satu lengan saja. Tapi jika ada perbedaan, maka itu tandanya salah satu pembuluh nadi atau sedang berada dalam masalah," kata Dr William O'Neill yang memimpin penelitian itu, seperti dikutip dari Healthday, Senin (30/1/2012).

Dr O'Neill menyarankan, orang-orang yang berisiko tinggi untuk mengalami serangan jantung sebaiknya rajin mengukur tekanan darahnya di kedua lengan. Para perokok dan pengidap diabetes termasuk dalam kelompok berisiko, sehingga dianjurkan mengukur tensi di kedua lengan.

Hasil penelitian ini dipublikasikan secara online di jurnal Lancet edisi 30 Januari.(http://www.detik.com)

cara menjaga kesahatan jiwa


10 Penyakit Mematikan yang Bisa Menular Antar Spesies


img
Sejumlah penyakit mematikan bisa menular dari hewan ke manusia dan kebalikannya. Parasit pembawa penyakit ini tidak memilih-milih inangnya. Ketahui penyakit mematikan apa saja yang bisa ditularkan antar spesies.

Infeksi silang spesies ini memberi kesempatan patogen untuk bertukar gen dan bersiap membunuh inang yang sebelumnya dianggap asing. Penularan dapat terjadi dari kegiatan yang tampaknya tidak berbahaya seperti membiarkan monyet bergelayutan di kepala.

Mikroba dari dua spesies dapat berkumpul dalam usus dan berevolusi membentuk virus baru yang lebih mematikan dan menular. Seperti dilansir LiveScience, Senin (30/1/2012), berikut adalah 10 penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia dan sebaliknya.

1. Wabah influenza
Wabah flu babi yang menyerang beberapa negara saat ini tidak separah wabah flu yang pernah ada dalam sejarah. Tapi dengan banyaknya orang di bumi yang kebanyakan berdiam di kota dan bepergian dengan mudah, membuat potensi wabah ini tidak akan mudah diatasi.

Wabah influenza pada tahun 1918 pernah melanda dunia dalam beberapa bulan dan membunuh lebih dari 50 juta orang. Angka ini sangat luar biasa jika dibandingkan penyakit lainnya yang tercatat dalam sejarah untuk jangka waktu singkat.

Tidak seperti beberapa jenis virus flu yang banyak membunuh orang tua, anak-anak, dan orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, virus flu tahun 1918 ini menyerang orang dewasa muda. Dalam satu tahun, rata-rata harapan hidup menurun sebesar 12 tahun.

2. Wabah pes
Sampai saat ini, belum ada yang dapat mengalahkan wabah di Eropa pada abad ke-14 atau disebut juga Wabah Bubonic. Sebanyak 75 juta orang meninggal dari populasi awal sebesar 360 juta.

Wabah ini disebabkan bakteri Yersinia pestis yang dibawa oleh hewan pengerat dan kucing, namun menjadi sangat mematikan saat ditularkan antar manusia. Gejalanya meliputi demam, meriang, lemas serta kelenjar getah bening yang bengkak dan nyeri. Bahkan sampai saat ini, wabah ini dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Wabah abad 14 ini mengaktifkan bakteri langka yang telah terbengkalai selama berabad-abad di gurun Gobi, Asia. Setelah menyerang Eropa di tahun 1320, bakteri ini berkembang sepanjang rute perdagangan dari Cina melalui Asia dan akhirnya ke Italia pada tahun 1347, kemudian sempat menyerang Rusia.

3. Penyakit akibat gigitan hewan : malaria, demam berdarah, chagas
Berbagai penyakit yang disebabkan oleh gigitan hewan telah membunuh ratusan ribu orang setiap tahun. Kebanyakan penyakit ini disebabkan oleh gigitan nyamuk.

Malaria menginfeksi lebih dari 350 juta orang setiap tahun, dan lebih dari 1 juta orang meninggal dunia yang kebanyakan anak-anak muda di Afrika selatan Sahara. Sedang nyamuk demam berdarah menginfeksi sekitar 50 juta orang setiap tahunnya, yang mana 500.000 dirawat di rumah sakit dan 2,5 persen di antaranya meninggal.

Selain akibat gigitan nyamuk, rabies membunuh sekitar 55.000 orang di seluruh dunia setiap tahunnya, sebagian besar kasus terjadi di Asia dan Afrika. Sebagian besar kematian tersebut diakibatkan gigitan anjing peliharaan yang terinfeksi.

Sekitar 16 juta orang atau lebih di Meksiko hingga Argentina diperkirakan terserang penyakit Chagas yang ditularkan dari kotoran kutu pemakan darah triatomines atau biasa disebut 'kutu pencium'. Chagas banyak disebarkan oleh anjing atau ayam yang disimpan dalam ruangan pada malam hari, sehingga memungkinkan kutu mengigit manusia.

4. HIV / AIDS
HIV atau virus penyebab AIDS berasal dari simpanse atau primata lain dan diperkirakan telah menginfeksi manusia sejak satu abad yang lalu. Virus ini menghancurkan sistem kekebalan tubuh dan memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi mematikan atau kanker. Salah satu penyakit yang dipicu AIDS adalah tuberkulosis yang membunuh hampir seperempat juta orang yang hidup dengan HIV setiap tahunnya.

Pada akhir 2007, diperkirakan 33 juta orang mengidap HIV, ditambah sekitar 2,7 juta kasus baru untuk tahun 2011. Sekitar 2 juta di antaranya meninggal dunia, termasuk 270.000 anak-anak.

5. Parasit penyebab gila : toxoplasma
Parasit Toxoplasma gondii menginfeksi otak lebih dari setengah populasi manusia, termasuk sekitar 50 juta orang di Amerika. Parasit ini diperkirakan dapat meningkatkan risiko neurotisisme dan dapat menyebabkan skizofrenia. Gejala awalnya pada manusia menyerupai flu.

Kucing rumah yang dibiarkan menjelajah oleh pemiliknya adalah lebih rentan terserang, biasanya didapatkan dari kotoran kucing. Tak hanya kucing, parasit ini juga ditemukan pada mamalia lain di mana ia dapat bereproduksi secara aseksual.

6. Borok perut
Helicobacter pylori adalah bakteri patogen yang menyebabkan borok usus pada manusia. Bakteri ini diduga berasal dari singa, cheetah dan macan. Penyakit ini masih berlanjut sampai hari ini pada kucing besar.

7. Ebola
Ebola adalah ancaman bagi gorila dan simpanse di Afrika Tengah. Virus ini bisa menular antar manusia melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Ebola telah menewaskan beberapa ratus orang pada pertengahan tahun 1970-an dan dapat disebarkan oleh kelelawar yang tidak mati meski terinfeksi.

Gejalanya cukup mengerikan yaitu demam mendadak, rasa lemah yang intens, nyeri otot, sakit kepala dan sakit tenggorokan, seringkali diikuti dengan muntah-muntah, diare, ruam pada ginjal, gangguan pada fungsi hati. Dalam beberapa kasus menyebabkan pendarahan internal maupun eksternal.

8. Polio, frambusia, Anthrax
Para ilmuwan menduga simpanse di Taman Nasional Gombe Streaming, Tanzania mengidap polio dari manusia. Ada juga kekhawatiran gorila tertular frambusia dari manusia, penyakit yang terkait dengan sifilis namun tidak menular secara seksual.

Gorila dan simpanse di Afrika Barat telah terbunuh oleh wabah antraks, yang diduga berasal dari ternak yang digiring oleh manusia. Namun ada juga kemungkinan kejadian ini disebabkan oleh antraks yang ada secara alami ada di hutan.

9. Virus manusia yang membunuh simpanse : HRSV dan HMPV
Human respiratory syncytial virus (HRSV) dan human metapneumovirus (HMPV) membunuh bayi-bayi di negara berkembang. Hampir semua bayi manusia melakukan kontak dengan kuman, sehingga dapat mengembangkan antibodi secara alami yang dirancang untuk melawan kuman.

Tapi ada bukti virus HRSV dan HMPV yang ditularkan langsung dari manusia ke kera besar liar telah membunuh seluruh populasi simpanse di bagian Afrika Barat pada tahun 1999 hingga 2006.

10. Kutu kemaluan pada manusia
Pada tahun 2007, manusia tertular kutu kemaluan dari gorila sekitar 3 juta tahun lalu. Kutu ini tidak menular karena tidur dengan gorila, tapi jika tidur di sarang gorila atau makan bersama dengan gorila.

Manusia adalah satu-satunya primata yang memiliki kutu kemaluan dan kutu kepala. Simpanse hanya memiliki kutu kepala, dan gorilla memiliki kutu pada kemaluannya.

http://www.detik.com

Bau Pria Pemakan Seledri Bisa Menarik Perhatian Wanita

img
http://www.detikhealth.com/
Feromon adalah zat kimia yang dikeluarkan oleh tubuh manusia dan menyebabkan perubahan perilaku bagi orang lain yang mencium bau tersebut. Ada beberapa bukti ilmiah bahwa makanan tertentu menyebabkan laki-laki memancarkan aroma atau hormon yang membuatnya tampak lebih menarik bagi perempuan.

Waspadai Kelainan Kelenjar Tiroid Akibat Kurang Yodium

img
http://www.detikhealth.com/

Yodium sangat penting dalam produksi hormon tiroid. Tapi orang yang berada di dataran tinggi berisiko mengalami kekurangan yodium karena tanah di daerah tersebut sedikit mengandung yodium. Waspadai gangguan kesehatan akibat kekurangan yodium dan gangguan kelenjar tiroid.

Popular Posts

Cari halaman terkait

Apian mblakrax hunting edelweis. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger